Senin, 11 April 2016

worst

Mungkin semua orang yang melihatku selalu menyangka bahwa aku memiliki hidup yang sempurna, bagi mereka yang sebagian besar tau, tapi tidak untuk mereka yang benar benar tau.
aku tidak pernah mengira semua yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya bisa terjadi, aku berfikir ini anurgah dalam hidupku, tapi sekaligus juga penderitaan. memang tidak semua hadiah di bungkus dengan rapi begitupun juga dengan yang satu ini, meskipun aku yakin semuanya akan terlewati dengan semua kesabaranku.

aku seorang wanita berusia 20tahun, dulu aku memiliki hidup yang bahagia cinta kasih sayang orang tua yg utuh dan semua materi yang terpenuhi. tapi semua hidupku berubah drastis dalam sekejap. aku tidak pernah menyesali semua yang terjadi hanya saja aku amat meratapi apa yang terjadi.

tepat beberapa bulan yang lalu aku dinikahi oleh seorang laki-laki. laki-laki yang tidak pernah mencintai aku. awalnya aku berfikir ini akan mudah, tapi tidak dengan sekarang, cukup menyiksa. aku tidak pernah menyesal menikah dengan dia, aku tidak pernah mengira semuanya musibah, justru aku berfikir ini anugrah, yang bisa membuat aku terus berdiri tegak sampai detik ini.
dia laki-laki yang baik, berasal dari kelurga baik-baik pula. hanya saja masalahnya adalah dia tidak mencintaiku,

awalnya aku memang tidak mencintainya, tapi aku juga tidak mengerti seiring berjalannya waktu rasa itu mulai tumbuh, dan ketika rasa itu tumbuh lagi-lagi dia menegaskan kepadaku bahwa dia tidak pernah mencintaiku dia hanyta mencintai wanita yang kini pergi jauh dari hidupnya. aku mencoba mengerti dan tidak memaksakan dia untuk membalas rasa sayangku, aku hanya melakukan kewajiban menjadi seorang istri, aku tetap tersenyum kepada semua yang dia lakukan, meskipun amat menyakitkan di hatiku, aku lebih memilih diam. bukankah kewajiban seorang suami untuk membuat istrinya bahagia, tapi tidak dengan suamiku. sekalipun dia ayah dari bayi yang ada di rahimku. dia tidak pernah bersifat manis kepadaku dia selalu bersifat dingin, dia tidak pernah mau aku menyentuhnya walaupun sedikit. 

aku mengerti pernikahan kami memang terkesan buru-buru dan dipaksakan, saat kami menikah dia masih punya pacar yang sudah kurang lebih dua tahun menemaninya. aku juga tidak pernah mau untuk hidup seperti ini, ditambah lagi dia berkata terpaksa menjalani hidup bersama aku. rasanya lebih parah daripada di hujam batu berkali-kali, tapi aku masih kuat dan tetap tersenyum, aku hanya berfikir aku melakukan semua ini demi anak ku. anak yang aku sayangi. sesakali aku mengabaikan sifatnya yang selalu dingin, tidak pernah perhatian, tapi adakalanya hati ini lelah. aku ingin pulang ke orang tua ku agar aku bisa di beri kehangatan, kasih sayang, cinta, dari mereka yang sama sekali tidak pernah aku dapatkan dari suamiku. tapi aku tidak bisa, untuk berkata sakit hati saja aku tidak pernah bisa.